Yogyakarta, 3–4 Desember 2025 – Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) menggelar kegiatan Focus Group Solution (FGS) Adopsi SiFortuna yang berlangsung pada Rabu–Kamis, 3–4 Desember 2025, bertempat di Polbangtan Yogyakarta Magelang (YOMA).
Acara ini turut dihadiri oleh Kepala BBPOPT Ir. Yuris Tiyanto, M.M, perwakilan Direktur lingkup Ditjen Tanaman Pangan, Kepala DPKP Provinsi DIY, Kepala DPKP Kabupaten Bantul, perwakilan Kantor Staf Presiden, perwakilan Badan Intelijen Strategis, perwakilan KTNA, serta peserta admin BPTPH dan admin laboratorium dari seluruh Indonesia.
Sambutan Pembuka
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari berbagai pihak. Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Provinsi DIY, Bapak Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si. Beliau menyampaikan apresiasi kepada BBPOPT karena telah memilih Provinsi DIY sebagai lokasi pertemuan koordinasi untuk memperkuat sinergi dalam pengamanan tanaman pangan.
“Aplikasi SiFortuna merupakan kunci efisiensi dalam mengendalikan OPT, sejalan dengan visi-misi Pemerintah DIY terkait pembangunan dan pemanfaatan teknologi inovasi,” ujarnya.
Sambutan berikutnya diberikan oleh Kolonel Hari Santoso dari Badan Intelijen Strategis TNI. Ia menegaskan bahwa TNI turut berperan dalam program Kementerian Pertanian sebagai bentuk kolaborasi untuk mewujudkan swasembada pangan yang telah dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.
Sambutan berikutnya diberikan oleh Kolonel Hari Santoso dari Badan Intelijen Strategis TNI. Ia menegaskan bahwa TNI turut berperan dalam program Kementerian Pertanian sebagai bentuk kolaborasi untuk mewujudkan swasembada pangan yang telah dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.
Peran SiFortuna dalam Mendukung Asta Cita Presiden
Dalam sambutannya, Kepala BBPOPT Ir. Yuris Tiyanto, M.M., memaparkan lima peran strategis SiFortuna dalam mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya terkait program makan bergizi, ketahanan energi, dan hilirisasi. Lima peran tersebut meliputi:
- Pengamanan produksi dalam program swasembada pangan dari ancaman OPT.
- Penyediaan early warning system untuk deteksi dini serangan OPT termasuk OPT Karantina (Kategori A1 dan A2).
- Menjadi dasar penyusunan kebijakan pelindungan tanaman.
- Melaksanakan peramalan OPT berbasis manajemen risiko.
- Menurunkan risiko kehilangan hasil akibat serangan OPT.
“Kita tidak meningkatkan produksi, namun kita ingin mengamankan kehilangan hasil, sehingga dampaknya produktifitas menjadi baik”, tegasnya.
Materi dan Diskusi
Selanjutnya, kegiatan diisi dengan penyampaian materi oleh Ibu Ir. Dinar Dwi Astika dengan tema “Current Adoption Mapping and Challenges”. Dalam paparannya, beliau berharap agar melalui kegiatan ini, pengguna SiFortuna—khususnya POPT dan petani di seluruh Indonesia—dapat semakin optimal dalam memanfaatkan aplikasi tersebut dalam tugas sehari-hari.
Hari kedua difokuskan pada diskusi dan penyusunan action plan per provinsi. Agenda ini bertujuan memperkuat strategi diseminasi dan percepatan adopsi aplikasi SiFortuna di kalangan petani dan POPT.
Penutup
Acara ditutup dengan penyerahan plakat, pembacaan rumusan FGS, serta sesi foto bersama sebagai penanda komitmen bersama dalam memperkuat implementasi SiFortuna di seluruh Indonesia.