Sleman, 8 Maret 2026 – Program kampung peramalan di Sleman telah sukses diselenggarakan dan menuai apresiasi dari berbagai elemen. Keberhasilan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) khususnya hama tikus di Desa Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman menjadi contoh penerapan teknologi perlindungan tanaman berbasis ekosistem melalui pengembangan Kampung Peramalan dengan konsep Forecasting Smart Eco Village (FSEV) berkelanjutan.
Kegiatan yang dilaksanakan oleh Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan - Kementerian Pertanian ini berlangsung selama satu musim tanam, mulai dari tahap persiapan hingga panen. Program ini tidak hanya menekankan pada pengendalian OPT, tetapi juga pada penguatan kapasitas petani melalui penerapan teknologi Pengamatan, Peramalan dan Pengendalian OPT (P3OPT) secara terpadu di tingkat lapangan.

Kepala BBPOPT Yuris Tiyanto, menjelaskan bahwa pendekatan Kampung Peramalan dirancang untuk membangun sistem pengendalian OPT yang berkelanjutan berbasis agroekosistem dan partisipasi aktif petani.
“Keberhasilan pengendalian OPT, khususnya tikus, tidak bisa dilakukan secara parsial. Kunci utamanya adalah pengamatan rutin, peramalan yang tepat, serta tindakan pengendalian yang dilakukan secara terpadu dan serempak oleh petani dalam satu hamparan luas, untuk di Moyudan ini kurang lebih 242 hektar wilayah yang kita cover” jelasnya.

Selain itu, Kampung Peramalan juga mengintegrasikan pendekatan Disruptive Agricultural Technology (DAT) sebagai salah satu komponen inovasi dalam pengelolaan budidaya padi di tingkat lapangan. Pendekatan ini menitikberatkan pada sistem budidaya padi melalui rekayasa berbagai komponen input produksi agar dapat ditekan seefisien mungkin. Komponen tersebut meliputi pemilihan varietas unggul, penerapan pola budidaya yang tepat, penggunaan pupuk dan pestisida secara bijak, serta efisiensi penggunaan tenaga kerja. Dengan demikian, sistem budidaya yang diterapkan mampu menghasilkan produktivitas tinggi meskipun dengan penggunaan input yang relatif rendah.
Melalui penerapan DAT, petani didorong untuk mengoptimalkan pengelolaan agroekosistem secara lebih bijak, termasuk dalam penerapan teknologi Pengamatan, Peramalan, dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (P3OPT). Pendekatan ini memungkinkan pengendalian OPT dilakukan secara lebih efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan sehingga dapat mendukung stabilitas produksi padi di tingkat petani.

Dalam implementasinya, Kampung Peramalan dilaksanakan melalui Sekolah Lapang P3OPT yang terdiri dari 12 kali pertemuan rutin selama musim tanam. Pada setiap pertemuan, petani dilatih untuk melakukan pengamatan ekosistem, menganalisis kondisi lapangan, serta mengambil keputusan pengendalian OPT secara mandiri berdasarkan hasil pengamatan tersebut.
Melalui metode ini, petani tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam sistem perlindungan tanaman di wilayahnya. Materi yang disampaikan meliputi teknik pengamatan populasi tikus melalui identifikasi lubang aktif, pengendalian secara mekanis seperti gropyokan dan fumigasi, hingga penggunaan teknologi pengendalian lainnya.

Pendekatan ini terbukti efektif dalam menekan populasi tikus yang selama bertahun-tahun menjadi masalah endemis di wilayah Moyudan.
Sebagai bagian dari konsep ekologi dalam FSEV, pengendalian tikus juga dilakukan melalui pemanfaatan predator alami, salah satunya burung serak jawa (Tyto alba). Upaya ini dilakukan melalui kerja sama dengan Pusat Studi dan Konservasi Burung Hantu yang dikelola oleh Lim Wen Sin.
Wilayah pertanian yang luas dan memiliki sejarah panjang serangan tikus menjadikan pendekatan ini penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Melalui pendekatan konservasi ini, sistem pengendalian tidak hanya bergantung pada metode mekanis atau kimia, tetapi juga memanfaatkan proses alami dalam ekosistem pertanian.

Sebagai bentuk apresiasi sekaligus dukungan pemerintah terhadap keberhasilan petani dalam menerapkan teknologi P3OPT, kelompok tani di Kampung Peramalan juga menerima bantuan combine harvester. Bantuan ini merupakan hasil sinergi BBPOPT dengan Direktorat Pascapanen Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP).
“Bantuan combine harvester ini tidak hanya untuk mempercepat proses panen, tetapi juga untuk mengurangi kehilangan hasil panen serta mendukung pelaksanaan tanam serempak pada musim tanam berikutnya. Dengan panen yang lebih cepat dan efisien, petani dapat segera menyiapkan lahan sehingga pengelolaan ekosistem pertanian menjadi lebih baik,” ujar Yuris.
Selain itu, Yuris juga mengapresiasi kearifan lokal petani Sleman yang masih menjaga tradisi “Wiwitan” sebelum panen dimulai. Dalam prosesi tersebut, petani memilih dan memetik 16 malai padi terbaik untuk disimpan sebagai sumber benih pada musim tanam berikutnya.

Menurutnya, tradisi ini sangat mendukung sistem perbenihan di tingkat petani karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap bantuan benih dari pemerintah. Apabila pada musim sebelumnya petani menerima bantuan varietas unggul baru tahan penyakit (VUTB), maka proses wiwitan ini juga menjadi strategi untuk meningkatkan produktivitas melalui pergantian varietas yang lebih unggul dan adaptif terhadap serangan OPT.
Keberhasilan Kampung Peramalan di Sumbersari menunjukkan bahwa pengendalian OPT dapat dilakukan secara efektif melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan teknologi, pemberdayaan petani, serta konservasi ekosistem yang berkelanjutan.

Data menunjukkan penerapan Kampung Peramalan melalui konsep Forecasting Smart Eco Village (FSEV) berdampak nyata dalam penurunan serangan OPT serta peningkatan kinerja usahatani petani. Sebelum pelaksanaan kegiatan FSEV, tingkat serangan OPT utama pada tanaman padi di wilayah tersebut tercatat cukup tinggi, antara lain tikus sebesar 27,33 persen, penggerek batang padi (PBP) 15,46 persen, Wereng Batang Cokelat (WBC) mencapai 5,2 ekor per rumpun, serta penyakit hawar daun bakteri (BLB) sebesar 30,27 persen.
Setelah penerapan Kampung Peramalan, tingkat serangan OPT berhasil ditekan secara signifikan. Data terakhir menunjukkan serangan tikus menurun menjadi 9,98 persen, PBP 1,4 persen, WBC turun menjadi 0,02 ekor per rumpun, serta BLB menurun menjadi 8,55 persen.

Dampak positif juga terlihat pada lokasi demplot DAT, di mana tingkat serangan OPT dapat ditekan lebih rendah lagi, yaitu serangan tikus sebesar 7,1 persen, sementara PBP, WBC, blas, BLB, dan tungro tidak ditemukan.
Selain menurunkan serangan OPT dan mengurangi potensi kehilangan hasil, kegiatan ini juga meningkatkan produktivitas dan keuntungan petani. Berdasarkan hasil ubinan pada lokasi demplot DAT dengan varietas Inpari 32, produktivitas mencapai 7,53 ton per hektar dengan B/C Ratio sebesar 1,95 meningkat dibandingkan musim sebelumnya yang hanya sebesar 6,8 ton per hektar. Sementara itu, pada hamparan kegiatan FSEV seluas 242 hektare, produktivitas mencapai rata-rata 6,55 ton per hektar dengan B/C Ratio sebesar 1,33, lebih tinggi dibandingkan wilayah di luar lokasi FSEV yang hanya mencapai 6,2 ton per hektar.

Dengan berbagai capaian tersebut, Model Kampung Peramalan ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki permasalahan serupa, sehingga sistem perlindungan tanaman berbasis Forecasting Smart Eco Village (FSEV) berkelanjutan dapat berkembang lebih luas dalam mendukung ketahanan pangan nasional.