Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu terkait kami atau P3OPT

KAWAL PM-AAS DAN SWASEMBADA PANGAN, BBPOPT PERKUAT PENGAMANAN PRODUKSI DI JAWA TENGAH

  • 08/08/2026 08:27:00
  • By : Admin BBPOPT
  • 106
KAWAL PM-AAS DAN SWASEMBADA PANGAN, BBPOPT PERKUAT PENGAMANAN PRODUKSI DI JAWA TENGAH

Karawang, 8 Agustus 2026 – Upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan tidak hanya membutuhkan percepatan tanam dan peningkatan produktivitas, tetapi juga pengamanan tanaman dari ancaman Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Hal tersebut menjadi perhatian Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis Pengamatan, Peramalan dan Pengendalian OPT (P3OPT) serta Sosialisasi SIFORTUNA di Provinsi Jawa Tengah, 4–6 Agustus 2026.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari pendampingan dan pengawalan Luas Tambah Tanam (LTT) Padi dalam mendukung program Swasembada Pangan Berkelanjutan (SPB) sekaligus menjadi langkah responsif BBPOPT terhadap perkembangan serangan OPT di sejumlah wilayah Jawa Tengah.

 

 

 

 

Hal tersebut menjadi perhatian serius Kepala BBPOPT Yuris Tiyanto. Menurutnya, peningkatan produksi melalui berbagai program pemerintah harus berjalan beriringan dengan kesiapan pengamanan tanaman di lapangan. “Bimtek P3OPT ini sifatnya wajib, karena tanpa pengamatan dan peramalan yang akurat, maka pengendalian tidak akan efektif. Pahami siklus hama dan penyakit di lapangan sebagai kunci utama dalam sukses budidaya,” tegas Yuris.

 

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah percepatan implementasi Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang tengah didorong Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebagai bagian dari strategi peningkatan produktivitas dan penguatan swasembada pangan berkelanjutan. Kementerian Pertanian menargetkan penerapan PM-AAS secara lebih luas, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, petugas, dan petani. 

 

Bagi BBPOPT, percepatan transformasi budidaya tersebut harus dibarengi dengan sistem perlindungan tanaman yang kuat. Sebab, peningkatan populasi dan intensifikasi budidaya juga perlu diantisipasi melalui pengamatan dan peramalan OPT yang akurat agar potensi kehilangan hasil dapat ditekan. “Program Pak Mentan seperti PM AAS harus dilaksanakan sebaik mungkin, upaya kita adalah tetap mengamankan tanaman dari serangan OPT”, ujar Yuris dalam arahannya pada Bimtek P3OPT di Sukoharjo.

 

 

 

 

Ia juga menekankan bahwa pengendalian OPT tidak dapat dilakukan secara parsial. POPT dan PPL harus berjalan bersama, karena keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan sekaligus mengamankan produksi dan produktivitas pertanian. BBPOPT juga mendorong optimalisasi bahan pengendali yang tersedia di masing-masing wilayah serta percepatan pengajuan bantuan apabila kebutuhan di lapangan belum tercukupi.

 

Bimtek P3OPT dilaksanakan dalam tiga rangkaian. Pada 4 Agustus, kegiatan secara online diikuti wilayah Satpel Banyumas, Pekalongan, dan Kedu. Sehari berikutnya, kegiatan dilaksanakan secara offline langsung di Sukoharjo, sedangkan pada 6 Agustus kembali dilaksanakan secara online bersama wilayah Satpel Semarang, Salatiga, dan Pati.

 

Materi yang diberikan meliputi evaluasi prakiraan serangan OPT padi, jagung, dan kedelai Provinsi Jawa Tengah MT 2026, pemanfaatan SIFORTUNA, serta pengendalian OPT utama tanaman padi. Kehadiran SIFORTUNA dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat pengambilan keputusan berbasis data dan informasi peramalan OPT.

 

 

 

Menurut Yuris, kondisi pengendalian di Jawa Tengah membutuhkan kolaborasi yang lebih luas mengingat cakupan wilayah pengendalian yang besar sementara jumlah petugas terbatas. Karena itu, ia mendorong POPT di masing-masing kecamatan membentuk Regu Pengendalian Terpadu (RPT) dan mengembangkan pendekatan Kampung Peramalan, yang di dalamnya dapat dikembangkan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) untuk meningkatkan kemampuan petani dalam mengamati, meramalkan, dan mengendalikan OPT.

 

Bimtek tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Sejumlah rencana tindak lanjut telah disiapkan oleh masing-masing wilayah. Di Sukoharjo, PPL dan POPT akan melaksanakan praktik lapang lanjutan, memperkuat produksi agens hayati Beauveria bassiana dan Trichoderma spp., serta memperluas sosialisasi SIFORTUNA hingga tingkat petani.

 

Sementara itu, di berbagai wilayah Jawa Tengah juga telah dilakukan langkah-langkah pengendalian sesuai kondisi setempat. Grobogan melaporkan pengendalian tikus secara masif yang telah mencapai sekitar 90 persen menjelang panen, sedangkan Blora mempersiapkan pembentukan regu brigade dan pengembangan produksi agens pengendali hayati.

 

 

 

Di Jepara, hama WBC menjadi salah satu perhatian seiring kondisi kekeringan yang masih mempengaruhi LTT. Pati terus mendorong pengamatan bersama PPL dan petani serta mengembangkan Trichoderma, PGPR, dan Paenibacillus sebagai bagian dari pengendalian OPT.

 

BBPOPT juga terus mendorong agar setiap upaya peningkatan produksi di lapangan berjalan seiring dengan kesiapsiagaan menghadapi dinamika OPT di lapangan. Melalui sinergi antara BBPOPT, BPTPH, POPT, PPL, pemerintah daerah, dan petani, Jawa Tengah diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan swasembada pangan yang produktif, aman, dan berkelanjutan.

KATEGORI