Purwakarta, 13 September 2026 – Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, bergerak cepat merespons dinamika serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tikus pada lokasi Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Desa Cibatu, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Purwakarta.
Langkah tanggap darurat ini merupakan bentuk pengawalan ketat BBPOPT terhadap program prioritas swasembada pangan nasional, Kepala BBPOPT, Yuris Tiyanto, menegaskan bahwa penanganan OPT di tingkat lapangan dilakukan secara sistematis, terintegrasi, dan berbasis early warning system. BBPOPT secara konsisten telah mendiseminasikan peringatan dini dan peta kerentanan OPT secara berkala harian dan mingguan melalui aplikasi Sistem Informasi Forecasting OPT Nasional (SiFortuna), serta melayangkan surat kewaspadaan tertulis kepada seluruh Provinsi di Indonesia, untuk Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat dan UPTD BPTPH surat paling aktual sudah disampaikan sejak 7 September 2026.
"Sejak bulan Agustus lalu, rangkaian Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengamatan, Peramalan dan Pengendalian OPT (P3OPT) telah masif kami gelar di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur untuk membekali POPT, PPL dan petani. Begitu ada laporan di Cibatu, hari ini tim teknis kami langsung turun ke lokasi untuk surveillance, Bimbingan teknis, dan pendampingan Gerakan Pengendalian (Gerdal)," tegas Yuris.

Tim BBPOPT turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi pertanaman, mengidentifikasi perkembangan serangan, mengevaluasi langkah pengendalian yang telah dilakukan, serta memberikan rekomendasi teknis kepada petani dan petugas lapangan.
Lebih lanjut Yuris mengatakan bahwa pengamanan produksi dari ancaman OPT harus dilakukan sejak sebelum serangan berkembang di lapangan. Menurutnya, BBPOPT selama ini terus memperkuat sistem pengamatan dan peramalan OPT serta menyampaikan informasi kewaspadaan kepada pemerintah daerah dan petugas perlindungan tanaman.
“Prinsip kami pengamatan menjadi dasar, peramalan menjadi pijakan, dan pengendalian menjadi tindakan nyata. Karena itu, informasi OPT harus diterjemahkan menjadi langkah di lapangan,” ujar Yuris.
“Sebelumnya upaya antisipatif tersebut juga telah dilakukan di Kabupaten Purwakarta pada 11 Agustus 2026 BBPOPT telah melaksanakan Bimbingan Teknis P3OPT yang melibatkan unsur Dinas Pertanian, petugas POPT dan PPL. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penguatan mengenai pengamatan dan pengendalian OPT tanaman pangan, termasuk kewaspadaan terhadap hama tikus yang menjadi salah satu OPT penting pada pertanaman padi”, ungkapnya
Penguatan kapasitas petugas dan penyuluh tersebut merupakan bagian dari strategi BBPOPT untuk memastikan informasi mengenai perkembangan OPT dapat segera diterjemahkan menjadi langkah pengamanan di tingkat lapangan. Selain penguatan kapasitas sumber daya manusia, BBPOPT juga terus mengoptimalkan penggunaan SiFortuna sebagai instrumen peramalan dan peringatan dini perkembangan OPT.

Informasi perkembangan OPT yang dihimpun melalui sistem pengamatan menjadi bahan dalam penyusunan informasi kewaspadaan dan rekomendasi pengamanan tanaman. Dengan pendekatan tersebut, pengendalian OPT tidak semata-mata menunggu sampai terjadi serangan, tetapi diarahkan pada upaya mengenali potensi ancaman lebih awal sehingga tindakan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.
“Adapun hari ini, begitu mendapatkan informasi mengenai kondisi pertanaman di lokasi PM-AAS Cibatu, BBPOPT segera menindaklanjutinya dengan menurunkan tim surveillance ke lapangan. Tim melakukan pengamatan kondisi pertanaman, memeriksa keberadaan tanda-tanda aktivitas tikus, serta mengevaluasi teknik pengendalian yang telah dilakukan petani”, sambungnya
Dari hasil evaluasi lapangan, ditemukan bahwa pengendalian sebelumnya telah dilakukan melalui penggunaan umpan beracun. Namun, masih terdapat beberapa aspek teknis dalam penggunaan umpan yang perlu diperbaiki agar pengendalian dapat berlangsung lebih efektif. Petani dan petugas kemudian mendapatkan arahan langsung mengenai teknik pemasangan dan penempatan umpan serta prinsip pengendalian tikus yang tepat.

“Kami merekomendasikan agar pengendalian tikus tidak hanya mengandalkan satu metode. Pengendalian perlu dilakukan secara terpadu dengan memadukan pengamatan populasi, pengelolaan habitat, pemasangan Trap Barrier System (TBS), perangkap bubu, pengelolaan lubang aktif serta penggunaan umpan beracun dengan teknik aplikasi yang benar”.
“Untuk memberikan motivasi dan contoh kepada petani, BBPOPT juga memberikan dukungan berupa alat perangkap tikus yang dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pengendalian sekaligus menjadi contoh teknologi sederhana yang dapat diadopsi dan dikembangkan oleh petani secara mandiri”, terangnya
Kondisi lingkungan sekitar pertanaman juga menjadi perhatian. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, terdapat habitat tikus pada jalur sungai dan hutan jati yang berbatasan langsung dengan areal persawahan. Karena itu, pengendalian perlu dilakukan secara bersama-sama dan tidak hanya berfokus pada tanaman yang telah terserang.
“Kalau habitatnya masih ada, pengendalian di dalam sawah saja tidak cukup. Karena itu perlu pengendalian terpadu dan dilakukan bersama-sama. Tanam serempak juga penting agar pengendalian lebih mudah dilakukan,” jelas Yuris.
BBPOPT menilai keberhasilan pengamanan pertanaman dari ancaman OPT membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. POPT sebagai petugas teknis perlindungan tanaman, PPL sebagai pendamping petani, pemerintah daerah dan petani perlu bergerak dalam satu sistem pengawalan.

Keterbatasan jumlah petugas POPT di lapangan menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi melalui penguatan sinergi. Karena itu, BBPOPT mendorong peningkatan kapasitas PPL agar dapat membantu mendukung kegiatan pengamatan dan pengawalan OPT di lapangan. BBPOPT siap memberikan pelatihan dan penguatan kapasitas kepada PPL dalam mendukung pengamatan dan pengendalian OPT, sehingga jangkauan pengawalan terhadap petani dapat semakin luas.
Yuris menegaskan bahwa ditemukannya serangan tikus di salah satu lokasi PM-AAS menjadi bahan evaluasi untuk semakin memperkuat sistem pengamanan tanaman, bukan menjadi alasan untuk menghentikan penerapan pertanian modern. PM-AAS membutuhkan pengawalan budidaya yang terintegrasi, termasuk dalam aspek perlindungan tanaman. Karena itu, pengamatan dan pengendalian OPT harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan kawasan.
BBPOPT akan terus melakukan pemantauan perkembangan OPT dan memberikan rekomendasi teknis sesuai kondisi lapangan. “Yang penting bukan hanya bagaimana kita merespons setelah terjadi serangan, tetapi bagaimana kita membangun sistem agar petani mampu mengenali lebih awal, melaporkan lebih cepat dan melakukan pengendalian dengan cara yang benar. Itu yang terus kita bangun bersama,” tutup Yuris.