Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu terkait kami atau P3OPT

KEMENTERIAN PERTANIAN PERCEPAT SOLUSI AIR, AMANKAN PERTANAMAN PADI DI BENGAWAN JERO LAMONGAN

  • 22/08/2026 15:53:00
  • By : Admin BBPOPT
  • 50
KEMENTERIAN PERTANIAN PERCEPAT SOLUSI AIR, AMANKAN PERTANAMAN PADI DI BENGAWAN JERO LAMONGAN

Lamongan, 22 Agustus 2026 – Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melalui Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) melakukan langkah cepat dalam mengamankan pertanaman padi di kawasan Bengawan Jero, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.  Upaya penanganan dilakukan secara terpadu bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Lamongan, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Jawa Timur, petugas POPT, penyuluh pertanian, serta para petani.

 

Langkah tersebut merupakan tindak lanjut atas aspirasi petani melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Bengawan Jero yang disampaikan pada 15 Agustus 2026. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan langsung melakukan pemantauan lapangan pada 18–19 Agustus untuk memastikan kondisi pertanaman, sumber air, serta jaringan irigasi yang menjadi jalur utama distribusi air menuju areal persawahan.

 


 

Penanggung Jawab Swasembada Pangan Berkelanjutan (SPB) Provinsi Jawa Timur sekaligus Kepala BBPOPT, Yuris Tiyanto, memimpin langsung konsolidasi penanganan di lapangan. Fokus utama diarahkan pada percepatan distribusi air melalui optimalisasi jaringan irigasi, pengerukan sedimentasi, penambahan pompa, serta pembangunan jalur suplai air menuju areal persawahan yang membutuhkan.

 

“Yang kita lakukan sekarang adalah memastikan solusi berjalan cepat di lapangan. Setiap langkah diarahkan agar air segera sampai ke lahan petani. Kita tidak boleh kehilangan waktu karena pertanaman harus terus dikawal sampai panen,” ujar Yuris.

 

Salah satu langkah percepatan yang telah dilakukan adalah optimalisasi jaringan irigasi dengan mengerahkan empat unit excavator amfibi. Satu unit sebelumnya telah beroperasi sejak 14 Agustus 2026, kemudian ditambah tiga unit, masing-masing dua unit dari BBWS Bengawan Solo dan satu unit dari Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur. Tambahan armada tersebut langsung bekerja untuk mempercepat normalisasi saluran primer sehingga kapasitas aliran air dapat ditingkatkan.

 


 

Selain pengerukan dan normalisasi saluran, percepatan suplai air juga dilakukan melalui pengoperasian dua unit mobile pump dengan kapasitas total mencapai 1.000 liter per detik. Pompa tersebut dioperasikan mulai 17 Agustus 2026 dengan target operasi sekitar 60 hari kerja untuk mendukung ketersediaan air di kawasan Bengawan Jero.

 

Dukungan pemompaan juga diperkuat melalui pengoperasian dua unit trailer pump berkapasitas 250 liter per detik, serta tambahan pompa 3 inci dan 6 inci yang diarahkan menuju wilayah Desa Weduni, Tukkerto, dan Sidomulyo. Sistem pemompaan tersebut mulai dioperasikan sejak 18 Agustus 2026 dengan target operasi sekitar 90 hari.

 

Untuk mempercepat distribusi air hingga ke areal persawahan, langkah lain yang sedang dipacu adalah pembuatan parit air dari Sungai Blawi sepanjang sekitar 2,5 kilometer. Jalur tersebut diharapkan dapat mempercepat aliran air menuju lahan sawah yang berada cukup jauh dari sumber air.

 


 

“Parit suplesi ini menjadi salah satu solusi penting agar air tidak hanya tersedia di sumbernya, tetapi benar-benar bisa dialirkan mendekati lahan pertanian. Kita percepat pengerjaannya agar manfaatnya segera dirasakan petani,” jelas Yuris.

 

Bersamaan dengan itu, peningkatan debit air menuju Sungai Blawi dilakukan melalui pengaturan beberapa pintu air dari aliran Bengawan Solo. Upaya tersebut disertai dengan penambahan pompa dari Sungai Blawi menuju jaringan irigasi dan lahan pertanian.

 

Percepatan penanganan juga diperkuat melalui penyediaan sarana pendukung berupa pipa berdiameter 3 inci dan 6 inci sepanjang sekitar 1.000 meter, pada hari ini Sabtu, 22 Agustus 2026. Pipa tersebut akan mendukung sistem pemompaan dan distribusi air menuju wilayah yang membutuhkan.

 


 

Di sisi lain, normalisasi sejumlah jaringan sungai juga terus menunjukkan progres. Pada Sungai Malang, normalisasi menggunakan excavator amfibi telah mencapai sekitar 530 meter, sedangkan pada Sungai Corong progres normalisasi telah mencapai sekitar 1.900 meter. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperlancar jaringan distribusi air di kawasan Bengawan Jero.

 

Yuris menjelaskan bahwa penanganan Bengawan Jero tidak hanya mengandalkan penambahan air, tetapi juga memerlukan pengaturan pemanfaatan sumber daya air secara bersama. Karena itu, pembatasan penggunaan air untuk tambak pada periode kebutuhan air tanaman padi menjadi salah satu langkah yang terus dikoordinasikan bersama pihak terkait.

 

“Pengelolaan air harus dilakukan secara bersama dan adil. Pada saat tanaman padi membutuhkan air untuk mempertahankan produksinya, distribusi air harus diatur sedemikian rupa agar kebutuhan pertanian tetap menjadi prioritas. Ini membutuhkan kesepakatan dan kedisiplinan seluruh pihak,” tegasnya.

 


 

Dalam jangka menengah, strategi yang disiapkan mencakup pengaturan sistem pembagian air Bengawan Solo antara kebutuhan lahan sawah dan tambak di wilayah Gresik maupun Lamongan. Selain itu, penggunaan air untuk tambak akan dibatasi pada periode tanam padi sehingga ketersediaan air dapat lebih optimal mendukung produksi pangan.

 

Langkah tersebut merupakan bagian dari sinergi lintas sektor dalam mengawal Swasembada Pangan Berkelanjutan. BBPOPT bersama seluruh unsur yang terlibat tidak hanya berperan dalam merespons kondisi lapangan, tetapi juga memastikan setiap solusi dapat dilaksanakan secara terukur dan terus dipantau perkembangannya.

 

Menurut Yuris, keberhasilan penanganan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat air tersedia, tetapi juga oleh konsistensi pengawalan setelah air berhasil masuk ke lahan. Untuk itu, petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), penyuluh pertanian, serta jajaran terkait akan terus melakukan monitoring terhadap kondisi pertanaman dan lingkungan sawah.

 


 

“Setelah air masuk, pengawalan tidak berhenti. Kita harus memastikan pertanaman kembali tumbuh optimal, kebutuhan airnya terpenuhi, sekaligus mengantisipasi kemungkinan munculnya organisme pengganggu tumbuhan setelah kondisi pertanaman mengalami tekanan kekeringan,” katanya.

 

Ia optimistis dengan sinergi dan percepatan berbagai solusi tersebut, pertanaman padi di kawasan Bengawan Jero dapat terus dikawal hingga panen.

 

“Kita optimistis dengan kerja bersama, percepatan pompanisasi, normalisasi jaringan, pembangunan parit suplesi, serta pengaturan distribusi air, pertanaman padi di Bengawan Jero dapat kita selamatkan dan produksi tetap terjaga. Ini adalah bentuk nyata kehadiran pemerintah bersama petani dalam mengawal swasembada pangan berkelanjutan,” pungkas Yuris.

KATEGORI