Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu terkait kami atau P3OPT

BBPOPT PERKUAT SISTEM PERAMALAN, HADAPI DINAMIKA SERANGAN OPT MT 2026/2027

  • 18/09/2026 18:10:00
  • By : Admin BBPOPT
  • 7
BBPOPT PERKUAT SISTEM PERAMALAN, HADAPI DINAMIKA SERANGAN OPT MT 2026/2027

Karawang, 18 September 2026 — Mengantisipasi dinamika Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang dapat mengancam produksi pangan, Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) memperkuat sistem peramalan dan evaluasi OPT melalui Workshop Peramalan OPT Tanaman Pangan Musim Tanam (MT) 2026/2027.

 

Kegiatan yang diselenggarakan secara virtual melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura dari 34 provinsi, serta para Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).

 

Workshop menjadi ruang untuk menyatukan data, informasi, dan hasil analisis peramalan OPT dari berbagai wilayah, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi serangan OPT pada musim tanam mendatang.

 


 

Kepala BBPOPT, Yuris Tiyanto, saat membuka kegiatan menegaskan bahwa pengelolaan OPT merupakan bagian penting dalam mengawal produksi pangan nasional, terutama di tengah upaya pemerintah mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan.

 

“Pemerintah telah mencanangkan swasembada pangan berkelanjutan. Program ini memiliki banyak sekali tantangan di lapangan. Terlebih lagi kita memacu produktivitas melalui model Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) dengan populasi tanaman yang rapat dan pemupukan intensif, yang tentu menuntut kewaspadaan tinggi terhadap dinamika OPT,” ujar Yuris.

 

Menurutnya, peningkatan produktivitas harus berjalan seiring dengan penguatan perlindungan tanaman. Karena itu, pengelolaan OPT tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi dan sinergi seluruh pihak.

“Oleh karena itu, mari kita bergandeng tangan, berkolaborasi, dan bersinergi mengawal produksi pangan nasional,” tegasnya.

 


 

Yuris juga menekankan pentingnya pengelolaan OPT yang terintegrasi, pre-emtif, dan responsif melalui prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yang meliputi budidaya tanaman sehat, monitoring rutin, pemanfaatan agens hayati dan musuh alami, serta memandirikan petani sebagai ahli di lahannya sendiri.

 

Sejalan dengan penguatan sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS), BBPOPT terus mengembangkan SiFortuna (Sistem Informasi Forecasting OPT Nasional). Platform ini mengintegrasikan data perkiraan, evaluasi KLTS secara real-time, citra satelit, estimasi kehilangan hasil, hingga rekomendasi pengendalian.

 

Sesi berikutnya diisi dengan pemaparan materi peramalan OPT oleh Ketua Kelompok Pelayanan Teknis dan Manajemen Mutu Laboratorium Suwarman. Ia menekankan bahwa hasil peramalan tidak boleh berhenti sebagai angka-angka, tetapi harus diterjemahkan menjadi dasar tindakan di lapangan.

 


 

“Peramalan OPT ini merupakan kegiatan dalam satu paket dalam konsep P3OPT dalam perlindungan tumbuhan yaitu pengamatan, peramalan dan pengendalian. Oleh karena itu, baik POPT maupun institusi yang bergerak dalam perlindungan tumbuhan, melakukan kegiatan peramalan OPT,” jelasnya.

 

Dalam kerangka P3OPT, peramalan memiliki posisi penting karena menghubungkan hasil pengamatan dengan langkah pengendalian. Informasi mengenai potensi perkembangan OPT diharapkan dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah antisipasi sebelum serangan berkembang lebih luas.

 

Tidak hanya membahas kemungkinan serangan ke depan, workshop juga mengevaluasi hasil peramalan yang telah dilakukan pada MT 2026. Sesi Evaluasi Peramalan OPT MT 2026 dipandu oleh Ketua Tim Kerja Pelayanan Teknis Dedi Darmadi, dengan fokus pada OPT yang perkembangan serangannya melampaui angka prakiraan.

 


 

Perbedaan antara angka prakiraan dan kondisi aktual di lapangan menjadi bahan evaluasi untuk melihat berbagai faktor yang mempengaruhinya. Proses ini penting untuk memperbaiki kualitas peramalan sekaligus menjadi pembelajaran agar kejadian serupa dapat diantisipasi pada musim tanam berikutnya.

 

Dengan evaluasi tersebut, hasil peramalan tidak hanya menjadi catatan terhadap apa yang telah terjadi, tetapi juga menjadi pijakan untuk menyusun strategi mitigasi secara lebih dini.

 

Memasuki sesi terakhir, Ketua Tim Kerja Pengelolaan Informasi dan Publikasi Busyairi Latiful Ashar memaparkan metode peramalan yang digunakan serta gambaran potensi perkembangan berbagai OPT pada MT 2026/2027.Salah satu perhatian yang disampaikan adalah potensi serangan Wereng Batang Cokelat (WBC) pada akhir MT 2026/2027 hingga awal MT 2027.

 


 

Potensi tersebut perlu diwaspadai karena memiliki kemiripan dengan pola kondisi pada MT 2023, yang diawali El Nino lemah dan kemudian berlanjut dengan La Nina lemah. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor lingkungan yang perlu dicermati dalam kaitannya dengan perkembangan WBC.

 

Informasi ini menjadi bagian penting dari sistem peringatan dini, sehingga kewaspadaan dapat dibangun lebih awal dan langkah mitigasi dapat dipersiapkan sebelum potensi serangan berkembang di lapangan.

 


 

Melalui workshop ini, BBPOPT mendorong penguatan sinergi antara pemerintah pusat, UPTD, dan POPT di seluruh Indonesia dalam membangun sistem perlindungan tanaman yang semakin berbasis data.

 

Sebab, dalam menghadapi OPT, mengetahui lebih awal berarti memiliki lebih banyak waktu untuk bertindak. Peramalan menjadi bagian penting dari upaya menjaga produktivitas dan mengawal keberlanjutan produksi pangan nasional.

KATEGORI