Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu terkait kami atau P3OPT

KAMPUNG PERAMALAN FSEV SLEMAN BERHASIL TEKAN SERANGAN TIKUS, PRODUKSI PADI NAIK SIGNIFIKAN

  • 07/03/2026 14:26:00
  • By : Admin BBPOPT
  • 132
KAMPUNG PERAMALAN FSEV SLEMAN BERHASIL TEKAN SERANGAN TIKUS, PRODUKSI PADI NAIK SIGNIFIKAN

Sleman, 7 Maret 2026 – Program Kampung Peramalan Forecasting Smart Eco Village (FSEV) yang dikembangkan oleh Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan -  Kementerian Pertanian, kembali membuktikan efektivitas teknologi peramalan dalam melindungi produksi pangan nasional.

 

Program yang dilaksanakan di daerah endemis tikus yaitu Desa Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini berhasil menekan serangan hama tikus secara signifikan sekaligus meningkatkan produktivitas padi petani.

 

Keberhasilan tersebut ditandai dengan kegiatan Panen Pengembangan Kampung Peramalan / Forecasting Smart Eco Village (FSEV) siang tadi dalam suasana yang penuh suka cita.

 

 

Kepala BBPOPT Yuris Tiyanto menegaskan bahwa sistem peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas produksi pertanian di tengah berbagai tantangan seperti perubahan iklim dan dinamika serangan OPT.

 

Menurut Yuris, pendekatan peramalan memungkinkan petani dan petugas pertanian bertindak lebih cepat sebelum serangan hama berkembang menjadi ancaman besar bagi produksi pangan.

 

“Dengan sistem peramalan yang kuat, berbasis data dan teknologi, kita tidak lagi hanya bereaksi setelah serangan terjadi, tetapi mampu melakukan pencegahan sejak dini secara efektif dan efisien, sebelum serangan OPT meluas. Inilah yang menjadi kunci dalam menjaga produksi pangan tetap aman,” ujar Yuris.

 

 

Ia menambahkan bahwa pengembangan Kampung Peramalan dilakukan sebagai bagian dari penerapan Disruptive Agriculture Technology (DAT) yang mendorong budidaya padi dengan input rendah namun produktivitas tinggi serta pengendalian OPT yang berkelanjutan.

 

Program FSEV di Sumbersari dilaksanakan sejak November 2025 hingga Maret 2026 dengan melibatkan 40 petani dari 14 kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Sumbersari. Kegiatan ini juga didukung oleh petugas POPT, penyuluh pertanian, serta pemerintah daerah.

 

Berbagai metode pengendalian diterapkan secara terpadu, mulai dari gropyokan tikus, pengemposan sarang, pemasangan Trap Barrier System (TBS) dan Linear Trap Barrier System (LTBS), pemanfaatan burung hantu sebagai musuh alami, hingga pelepasan parasitoid untuk mengendalikan penggerek batang padi.

 

 

Pendekatan terpadu tersebut terbukti mampu menekan serangan OPT secara signifikan. Sebelum program FSEV dilaksanakan, tingkat serangan tikus di lokasi mencapai sekitar 27,33 persen. Setelah penerapan teknologi pengendalian terpadu, serangan tikus berhasil ditekan hingga sekitar 9,98 persen.

 

Tidak hanya menekan serangan hama, program ini juga berdampak positif terhadap peningkatan produktivitas padi. Hasil ubinan pada lokasi demplot menunjukkan produktivitas mencapai sekitar 7,53 ton per hektare, meningkat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang berada pada kisaran 6,8 ton per hektare, setara dengan BC Ratio 1,95. Sebuah capaian yang sangat impresif. 

 

Sementara itu, produktivitas rata-rata pada hamparan FSEV seluas sekitar 242 hektare tercatat mencapai 6,55 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan lahan di luar kawasan program.

 

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa integrasi teknologi budidaya dengan sistem peramalan OPT dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga keberlanjutan pertanian.

 

 

Selain pendekatan teknis di lapangan, BBPOPT juga memperkuat sistem diseminasi informasi melalui aplikasi SIFORTUNA yang menyediakan data prakiraan serangan OPT, monitoring berbasis peta, serta sistem peringatan dini yang dapat diakses oleh berbagai pemangku kepentingan.

 

Yuris menyampaikan, kehadiran sistem digital ini memungkinkan informasi peramalan OPT menjangkau hingga tingkat daerah sehingga keputusan pengendalian dapat dilakukan lebih cepat, tepat dan akurat. Oleh karenanya SIFORTUNA kini sudah terintegrasi dengan dashboard  Situation Room Presiden  

 

Dalam keterangan penutupnya Ia menggaris bawahi bahwa: “Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, petugas teknis, hingga petani yang secara kolektif menerapkan pengendalian OPT dalam satu hamparan luas, tanpa mereka dan tanpa kebersamaan apa yang kita nikmati sekarang tidak akan pernah terwujud…terimakasih Yogya”, pungkasnya.

 

Direktur Perbenihan Tanaman Pangan sekaligus PJ LTT Yogyakarta, Ladiyani Retno Widowati yang juga turut hadir memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan program FSEV yang digagas oleh Kepala BBPOPT.

 

“Pak Yuris adalah guru saya. Program ini sangat bagus dan hari ini kita bisa melihat langsung hasilnya di lapangan. Saya berharap model Kampung Peramalan seperti ini dapat terus dikembangkan dan direplikasi di daerah lain.” Singkatnya. 

 

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Aris Eko Nugroho mengapresiasi inisiatif BBPOPT dalam menghadirkan teknologi peramalan OPT di wilayah yang dikenal sebagai daerah endemis tikus.

 

Ia menilai keberhasilan panen di Sumbersari menjadi bukti bahwa Kampung Peramalan dan integrasi teknologi serta pendampingan petani mampu meningkatkan produktivitas pertanian secara nyata.

 

“Keberhasilan panen hari ini menunjukkan bahwa dengan peramalan yang akurat dan pengendalian terpadu, serangan hama dapat ditekan sehingga produktivitas petani meningkat,” ujar Aris.

 

Apresiasi serupa juga disampaikan kepala Balai Proteksi Tanaman Pertanian (BPTP) DIY, Nurwidada yang menilai pendekatan kolaboratif menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini.

 

Menurutnya, keberhasilan pengendalian hama di kawasan tersebut tidak lepas dari kesadaran petani untuk melakukan pengendalian secara bersama dalam satu hamparan luas.

 

“Petani kini lebih memahami bahwa pengendalian hama tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kebersamaan dalam satu hamparan menjadi kunci keberhasilan pengendalian OPT,” terangnya.

 

 

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman, Rofiq Andriyanto menyampaikan apresiasi kepada BBPOPT beserta seluruh tim yang telah menggagas program Kampung Peramalan di wilayah Moyudan.

 

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BBPOPT dan seluruh tim yang telah menggagas Kampung Peramalan ini. Program ini terbukti menjadi solusi yang sangat baik dalam mengatasi serangan OPT, khususnya hama tikus di wilayah Moyudan. Keberhasilan hari ini tentu akan kami laporkan kepada Bapak Bupati Sleman sebagai contoh keberhasilan inovasi di bidang pertanian.”

 

Salah satu petani peserta program bernama Mardi, mengaku merasakan langsung manfaat dari kegiatan Kampung Peramalan yang dilaksanakan oleh BBPOPT bersama para petugas pendamping.

 

“Dengan adanya Kampung Peramalan ini, ilmu saya dan teman-teman petani menjadi bertambah. Kami yang sebagian besar berlatar belakang pendidikan sederhana jadi banyak belajar dari para petugas. Terima kasih kepada BBPOPT dan seluruh pendamping. Alhamdulillah berkat kegiatan ini kami bisa panen seratus persen, biasanya tidak seperti itu,” tutupnya dengan antusias.

KATEGORI


Facebook Instagram Youtube Twitter X