Purwakarta, 15 September 2026 – Upaya pengamanan pertanaman padi dari ancaman hama tikus di lokasi PM-AAS Desa Cibatu, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Purwakarta, terus berlanjut. Setelah dilakukan surveillance dan Bimbingan Teknis (Bimtek) oleh Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), pengendalian di lapangan kembali dilakukan secara bersama-sama oleh petani dan petugas setempat.
Tindak lanjut tersebut diwujudkan melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal) hama tikus yang dilaksanakan pada Senin, 14/9 dengan menerapkan beberapa metode pengendalian secara terpadu. Kegiatan meliputi pemasangan Trap Barrier System (TBS), pengemposan pada lubang tikus aktif, serta pemasangan perangkap di sekitar areal pertanaman.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut langsung dari hasil pengamatan dan rekomendasi teknis Tim BBPOPT saat melakukan surveillance di lokasi PM-AAS Cibatu. Kepala BBPOPT Yuris Tiyanto mengatakan bahwa pengendalian OPT harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada penyampaian informasi atau kegiatan Bimtek.
Menurutnya, Bimtek menjadi momentum untuk menyamakan pemahaman antara petugas dan petani mengenai karakteristik OPT sekaligus memastikan rekomendasi teknis dapat diterapkan secara langsung di lapangan.
“Setelah petugas dan petani memahami kondisi serta teknik pengendaliannya, yang paling penting adalah bagaimana pengetahuan tersebut langsung diterapkan di lapangan. Karena itu kita dorong tindak lanjut berupa gerakan pengendalian bersama,” ujar Yuris.
Dalam kegiatan Gerdal tersebut, petani bersama petugas melakukan pemasangan TBS dikombinasikan dengan bubu perangkap sebagai salah satu upaya mengendalikan pergerakan tikus menuju pertanaman. Selain itu, dilakukan pengemposan pada lubang aktif yang dinilai menjadi sarang tikus.
Penerapan beberapa metode secara bersamaan diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengendalian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu metode pengendalian.
BBPOPT menilai keterlibatan aktif petani dan petugas menjadi faktor penting keberhasilan pengendalian hama tikus. Petani merupakan pihak yang berada paling dekat dengan pertanaman sehingga memiliki peran dalam melakukan pengamatan rutin dan pengendalian.
Dan melalui pendampingan yang dilakukan petugas, petani tidak hanya menerima bantuan atau rekomendasi, tetapi juga diberikan contoh langsung mengenai cara penerapan teknologi pengendalian yang dapat dilakukan secara mandiri.
Pemasangan perangkap dan TBS menjadi salah satu bentuk teknologi pengendalian yang diharapkan dapat terus dikembangkan dan diperbanyak oleh petani sesuai kondisi wilayah masing-masing.
“Pengendalian tikus tidak bisa dilakukan sekali kemudian selesai. Harus ada pengamatan, kemudian tindakan, lalu dievaluasi kembali. Petani dan petugas harus terus bersama-sama melakukan pengawalan,” jelas Yuris.
Hama tikus memiliki kemampuan berkembang dan berpindah dari habitat di sekitar pertanaman. Oleh karena itu, pengendalian perlu dilakukan dengan pendekatan terpadu yang memperhatikan kondisi lingkungan dan sumber keberadaan tikus. Pemasangan TBS, perangkap dan pengemposan merupakan bagian dari strategi pengendalian yang dapat dikombinasikan dengan metode lainnya sesuai hasil pengamatan di lapangan.
BBPOPT juga terus mengingatkan pentingnya pengamatan rutin terhadap keberadaan lubang aktif dan tanda-tanda serangan, sehingga tindakan pengendalian dapat dilakukan sedini mungkin.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip perlindungan tanaman yang dikembangkan BBPOPT, yaitu mengedepankan pengamatan sebagai dasar pengambilan keputusan, peramalan sebagai bagian dari sistem peringatan dini, serta pengendalian sebagai tindakan nyata di lapangan.
Dengan dilaksanakannya Gerdal susulan ini, pengamanan pertanaman PM-AAS Cibatu memasuki tahap pengendalian aktif yang melibatkan petani dan petugas setempat.
BBPOPT akan terus mendorong agar hasil Bimtek dan rekomendasi surveillance dapat diterapkan secara konsisten, sekaligus memperkuat kapasitas petani dan petugas dalam melakukan pengamatan serta pengendalian OPT.
“Yang kita bangun bukan hanya menyelesaikan satu kejadian, tetapi membangun kemampuan petani dan petugas agar ke depan semakin cepat mengenali ancaman dan melakukan pengendalian secara tepat,” tutup Yuris.
