Karawang, 13 Agustus 2026 – Setelah sukses menggelar Bimbingan Teknis Pengamatan, Peramalan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (Bimtek P3OPT) di Provinsi Jawa Tengah pada 4–6 Agustus 2026, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan - Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) kembali memperkuat pengawalan perlindungan tanaman melalui rangkaian Bimtek P3OPT di Provinsi Jawa Barat.
Langkah tersebut merupakan bagian dari kontribusi BBPOPT dalam menjalankan tugas dan fungsinya di bidang pengamatan, peramalan, dan pengendalian OPT, sekaligus mendukung pengamanan produksi pangan di tengah dinamika serangan OPT, perubahan iklim, dan penerapan sistem pertanian modern melalui Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang digadang oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Rangkaian penguatan di Jawa Barat diawali pada Selasa, 11 Agustus 2026. Pada hari yang sama, kegiatan dilaksanakan melalui dua pendekatan, yaitu secara Offline di Kabupaten Purwakarta dan secara online melalui Zoom Meeting, sehingga pembinaan P3OPT dapat menjangkau wilayah yang lebih luas. Pola ini menunjukkan fleksibilitas BBPOPT dalam merespons kebutuhan petugas di daerah sekaligus memastikan transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas dapat terus berjalan.
Kepala BBPOPT Yuris Tiyanto menegaskan bahwa, pengamatan dan peramalan yang akurat merupakan dasar agar pengendalian OPT dapat dilakukan secara efektif. Karena itu, penguatan kapasitas petugas, peningkatan intensitas pengamatan, pemanfaatan teknologi informasi, serta sinergi dengan petugas dan petani harus terus dilakukan untuk memastikan pertanaman tetap aman.
Lebih lanjut Yuris memaparkan bahwa penguatan pengamatan dan pengendalian menjadi semakin penting seiring penerapan PM-AAS di lapangan. Sistem budidaya dengan populasi pertanaman yang lebih padat membutuhkan kesiapsiagaan lebih tinggi terhadap berbagai potensi OPT, ujarnya.

Menurutnya ada beberapa OPT yang perlu diwaspadai antara lain WBC, penggerek batang padi, tikus, gulma, penyakit blas, dan hawar daun bakteri, terutama pada wilayah dengan kelembapan tinggi. Karena itu, pihaknya mendorong POPT, PPL, dan petani untuk meningkatkan koordinasi serta melakukan pengamatan secara intensif.
Di Kabupaten Purwakarta, kegiatan dilaksanakan di Aula Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta dalam rangka menindaklanjuti evaluasi keadaan serangan OPT dan dampak perubahan iklim tahun 2026. Kegiatan dihadiri unsur BBPOPT sebagai narasumber, UPTD Perlindungan Tanaman Kabupaten Purwakarta, POPT, serta PPL Kabupaten Purwakarta.
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Hadyanto Purnama, dalam sambutannya mengapresiasi pelaksanaan Bimtek P3OPT yang menjadi ruang penguatan kapasitas petugas. Ia menekankan pentingnya peningkatan integritas dan sinergi antara POPT dan PPL, termasuk meningkatkan koordinasi serta bersama-sama turun ke lapangan dalam menghadapi serangan OPT.
Dalam Bimtek tersebut, BBPOPT memberikan penguatan mengenai kondisi serangan OPT padi, jagung, kedelai dan AKABI, evaluasi prakiraan serangan OPT di Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Purwakarta, prinsip pengamatan, peramalan dan pengendalian OPT, dampak perubahan iklim, serta strategi pengendalian dan tindak lanjut yang perlu dilakukan di lapangan.

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah hama Wereng Batang Coklat (WBC) di Kabupaten Purwakarta, khususnya di Kecamatan Pesawahan. Berdasarkan hasil diskusi, peningkatan tersebut antara lain dipengaruhi migrasi WBC dari wilayah sekitar dan pola tanam yang tidak serempak. Kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya pengamatan yang lebih intensif dan pengendalian yang dilakukan sejak dini.
BBPOPT mendorong agar pengamatan WBC dilakukan sejak persemaian hingga fase vegetatif. Pada wilayah dengan serangan tinggi dan pola tanam yang tidak serempak, penerapan pola tanam serempak perlu diperkuat untuk membantu memutus siklus perkembangan WBC. Apabila populasi telah mencapai ambang pengendalian, gerakan pengendalian perlu segera dilakukan dengan memperhatikan prinsip 6 Tepat.
Yaitu: tepat jenis, tepat mutu, tepat sasaran, tepat dosis dan konsentrasi, tepat waktu dan tepat cara, Pengendalian WBC juga perlu dituntaskan sedini mungkin, terutama saat memasuki generasi pertama pada fase vegetatif, untuk mengurangi peluang terjadinya hopper burn.
Persoalan lain yang dibahas adalah penggunaan pestisida. Keterbatasan jenis bahan aktif yang tersedia di lapangan perlu diantisipasi agar tidak meningkatkan risiko resistensi OPT. Karena itu, BBPOPT mendorong pergiliran pestisida berdasarkan cara kerja atau mode of action yang berbeda. Perencanaan pengadaan bahan pengendali juga perlu disusun berdasarkan kebutuhan dan angka prakiraan luas serangan OPT, sehingga ketersediaannya dapat disiapkan secara lebih tepat.

Pengendalian juga diarahkan melalui pendekatan pre-emptif, antara lain penggunaan varietas tahan, perlakuan benih, pemupukan berimbang, pengolahan tanah yang tepat, pola tanam serempak, serta pemanfaatan agens hayati. Pendekatan tersebut penting untuk mengurangi potensi peningkatan serangan OPT sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Dalam konteks tersebut, BBPOPT terus menempatkan P3OPT sebagai bagian penting dalam pengawalan produksi. Pengamatan menjadi dasar untuk mengetahui kondisi pertanaman, peramalan memberikan pijakan dalam menentukan langkah antisipasi, sedangkan pengendalian dilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan perkembangan OPT di lapangan.
Pendekatan tersebut memastikan bahwa upaya peningkatan produksi tidak hanya berorientasi pada pencapaian luas tanam dan produktivitas, tetapi juga memperhitungkan faktor keamanan pertanaman. Dengan demikian, penerapan teknologi budidaya modern dapat berjalan bersama dengan kesiapsiagaan perlindungan tanaman.
Keseriusan pengawalan tidak berhenti pada pelaksanaan Bimtek. Hasil kegiatan tersebut menjadi dasar bagi penyusunan tindak lanjut di sejumlah satuan pelayanan di Jawa Barat.
LPHP Cianjur, misalnya, akan meningkatkan pengamatan secara rutin dengan mengacu pada SOP PM-AAS, memanfaatkan tanaman refugia, pestisida nabati, dan agens pengendali hayati. Selain itu, dilakukan perbanyakan APH untuk pengendalian OPT tanaman pangan, koordinasi dengan dinas kabupaten terkait stok pestisida dan kesiapan menghadapi kekeringan, serta pelaksanaan Bimtek secara swadaya bersama petani.

Sementara itu, LPHP Tasikmalaya akan memperkuat sosialisasi kepada petani mengenai P3OPT, PM-AAS, dan SIFORTUNA. Langkah tersebut dilengkapi dengan koordinasi untuk pemetaan kondisi dan lokasi PM-AAS, identifikasi wilayah endemis, pengamatan rutin, serta penyediaan dan aplikasi agens pengendali hayati. Evaluasi juga akan dilakukan untuk mengukur hasil dan memperbaiki langkah yang masih perlu ditingkatkan.
SIFORTUNA menjadi salah satu instrumen penting dalam rangkaian penguatan tersebut. Pemanfaatan informasi peramalan OPT diharapkan dapat membantu petugas dan pemangku kepentingan dalam membaca potensi serangan, menentukan prioritas pengendalian, serta mempersiapkan kebutuhan bahan pengendali secara lebih terukur.
Dengan demikian, informasi prakiraan tidak berhenti sebagai data, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata di lapangan. Pola inilah yang terus didorong BBPOPT dalam menjalankan tugas P3OPT, yaitu pengamatan sebagai dasar, peramalan sebagai pijakan, dan pengendalian sebagai tindakan nyata untuk mengamankan produksi.
Acara Bimtek tidak tidak hanya selesai pada 11 Agustus. mengingat animo dari petugas yang sangat besar dan keterbatasan waktu maka acara yang sama akan digelar kembali besok Jumat, 14 Agustus 2026 secara online melalui kanal zoom
Hal itu menunjukkan keseriusan BBPOPT dalam menjalankan mandatnya. Ketika kondisi lapangan membutuhkan penguatan, BBPOPT hadir; ketika ditemukan persoalan, dilakukan evaluasi; dan ketika diperlukan tindak lanjut serta pembinaan maka disanalah BBPOPT ada tanpa diminta .