Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu terkait kami atau P3OPT

KEMENTAN PERKUAT PERCEPATAN TANAM DI NGAWI, 130 PPL DIBEKALI STRATEGI PENGAWALAN PRODUKSI

  • 31/08/2026 21:50:00
  • By : Admin BBPOPT
  • 175
KEMENTAN PERKUAT PERCEPATAN TANAM DI NGAWI, 130 PPL DIBEKALI STRATEGI PENGAWALAN PRODUKSI

 

Ngawi, 31 Agustus 2026 — Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melalui Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) terus memperkuat upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan dengan berbagai cara diantaranya: percepatan tanam, penguatan pendampingan petani, dan sinergi lintas sektor. Upaya tersebut diwujudkan melalui Gerakan Tanam di Desa Karangbanyu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, yang dilanjutkan dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi 130 Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Agro Techno Park (ATP) Ngawi.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari Gertam Merdeka yang dilaksanakan serentak di 25 kabupaten/kota se-Jawa Timur pada 31 Agustus 2026, mendongka peningkatan kesanggupan Luas Tambah Tanam (LTT) Jawa Timur pada Agustus 2026, dari 106.371,43 hektare menjadi 108.345,3 hektare.

 

 

 

Sekaligus menjadi momentum memperkuat kolaborasi pemerintah, penyuluh, POPT, petani, pengelola irigasi, penyedia sarana produksi, TNI dan stakeholder terkait dalam menjaga produktivitas pertanian.

 

Penanggung Jawab Swasembada Pangan Berkelanjutan (PJ SPB) Jawa Timur sekaligus Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Yuris Tiyanto, yang terjun langsung dalam kegiatan menegaskan bahwa percepatan tanam harus diikuti dengan pengawalan secara menyeluruh hingga tanaman menghasilkan.

 

“Gerakan tanam ini bukan hanya bagaimana kita menanam hari ini, tetapi bagaimana kita memastikan tanaman ini sampai panen dan memberikan hasil yang optimal,” tegas Yuris.

 

Menurutnya, tantangan penurunan ketersediaan air pada Agustus–September perlu diantisipasi bersama. Karena itu, koordinasi lintas sektor menjadi kunci agar persoalan di lapangan dapat segera ditangani.

 

“Kalau ada kekeringan, jangan dibiarkan sendiri. Buat grup dan diskusikan. Kita harus bekerja sama dengan stakeholder terkait, BBWS, POPT dan pihak lainnya,” ujarnya. 

 

 

Yuris juga menekankan pentingnya kesiapan menghadapi musim tanam berikutnya. LTT September harus segera dipersiapkan, sehingga lahan yang telah selesai dipanen dapat segera kembali ditanami dan kesinambungan produksi tetap terjaga.

 

Pengawalan tersebut menjadi semakin penting melihat potensi Kabupaten Ngawi yang memiliki lahan sawah sekitar 49.500 hektare. Pola tanam di sejumlah wilayah berlangsung secara kontinu, dengan sebagian lahan yang telah panen langsung dipersiapkan untuk penanaman berikutnya. Kondisi tersebut membuka peluang peningkatan indeks pertanaman hingga tiga kali tanam dan panen dalam setahun.

 

Di lapangan, kegiatan Gertam di Desa Karangbanyu mencakup tambah tanam seluas 8 hektare yang dikawal bersama oleh penyuluh dan petani.

 

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lamongan, Supardi, mengingatkan agar setiap persoalan yang muncul di lapangan dihadapi secara arif dan segera dicarikan solusi. Ia secara khusus menitipkan perhatian terhadap persoalan asem-aseman dan tanaman kerdil agar tidak berkembang menjadi gangguan yang dapat menurunkan produksi.

 

“Hadapi setiap permasalahan di lapangan dengan arif. Asem-aseman dan kerdil saya titip supaya bisa diselesaikan. Jangan sampai gagal panen, jangan ABS. Kalau ada apa-apa, segera koordinasikan dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian serta pihak terkait,” ujarnya.

 

Dukungan terhadap percepatan tanam juga disampaikan Rizhali dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Ia menegaskan komitmen BBWS dalam mendukung ketersediaan air irigasi di berbagai wilayah serta meningkatkan koordinasi dalam menghadapi kondisi El Nino dan potensi penurunan ketersediaan air.

 

 

Katimker Pengelolaan Administrasi dan Kinerja Penyuluhan Pertanian Kabupaten Ngawi Wahyu Kasih menjelaskan bahwa penyuluh siap mendampingi petani sejak persiapan lahan hingga penanaman serta memastikan data lahan sawah dapat terlaporkan dengan baik.

 

Dari sisi sarana produksi, perwakilan Pupuk Indonesia menyatakan kesiapan menyediakan pupuk sesuai kebutuhan Kabupaten Ngawi. Hingga Agustus 2026, realisasi distribusi pupuk telah mencapai sekitar 74 persen dari alokasi setahun, sehingga diharapkan mampu mendukung percepatan luas tambah tanam.

 

Jajaran TNI AD melalui Koramil Widodaren juga menyatakan dukungan penuh dalam mengawal petani sejak proses tanam hingga panen raya. Sementara Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki menyampaikan apresiasi atas dukungan seluruh pihak dan berharap gerakan swasembada pangan dapat meningkatkan hasil panen serta kesejahteraan petani.

 

 

Dukungan penyelesaian persoalan budidaya juga datang dari PT Marolis Cahya Internasional. Pimpinan perusahaan, Cahyo Yudi, menyampaikan kesiapan untuk membantu memberikan solusi terhadap persoalan budidaya, termasuk penanganan asem-aseman, dengan melibatkan tim teknis serta produk yang dimiliki perusahaan.

 

Cahyo Yudi juga dikenal sebagai penemu Biodiesel 100, inovasi bahan bakar nabati yang dikembangkan sebagai bagian dari pemanfaatan sumber daya terbarukan

 

Selain itu, PPL turut berbagi praktik pembuatan pupuk cair organik berbahan campuran M21, asam humat bubuk dan tetes tebu yang diaplikasikan pada lahan kosong sebelum penanaman sebagai bagian dari upaya pembenahan tanah.

 

 

Seusai pelaksanaan Gertam di Desa Karangbanyu, kegiatan kemudian dilanjutkan di Agro Techno Park (ATP) Ngawi melalui Bimbingan Teknis yang diikuti 130 PPL Kabupaten Ngawi.

 

Jika di lahan pertanian para peserta melihat secara langsung proses percepatan tanam dan berbagai tantangan yang dihadapi petani, maka forum Bimtek menjadi ruang untuk memperkuat strategi pengawalan agar percepatan tersebut benar-benar berujung pada peningkatan produksi.

 

Di hadapan 130 PPL, Yuris Tiyanto kembali menekankan pentingnya mengubah cara pandang pengawalan pertanian dari sekadar mengejar luas tanam menjadi memastikan setiap tanaman yang ditanam mampu menghasilkan secara optimal.

 

 

Ia mengingatkan bahwa PPL memiliki peran strategis sebagai penghubung kebijakan dengan kondisi nyata di tingkat petani. Setiap persoalan harus diidentifikasi sejak awal dan diselesaikan melalui koordinasi.

 

Yuris juga mendorong PPL menerapkan pendekatan budidaya yang lebih terukur melalui PMAAS. Produktivitas lahan perlu dipetakan secara lebih detail untuk mengetahui petak mana yang memiliki hasil tinggi dan mana yang masih rendah.

 

“Target produksi kita 10–12 ton. Petakan mana yang tinggi, mana yang rendah. Kita harus tahu penyebabnya dan bagaimana memperbaikinya,” jelasnya.

 

 

Dalam meningkatkan produktivitas tersebut, pemupukan juga harus dilakukan secara efisien. Yuris mendorong penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) sebagai salah satu pendekatan dalam menentukan kebutuhan pupuk nitrogen tanaman berdasarkan kondisi aktual tanaman.

 

Selain pemupukan, pengendalian gulma menjadi perhatian penting. Gulma harus dikendalikan karena dapat berkompetisi dengan tanaman dalam mendapatkan air, unsur hara, cahaya dan ruang tumbuh sehingga pada akhirnya dapat mempengaruhi produktivitas.

 

Apa yang tersebut diatas sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang terus mendorong percepatan tanam, optimalisasi lahan, peningkatan indeks pertanaman, penguatan irigasi dan pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari strategi mempertahankan swasembada pangan nasional.

 

KATEGORI