Pekalongan, 20 Agustus 2026 — Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian terus memperluas jangkauan pengawalan dan perlindungan tanaman di daerah. Setelah menggelar penguatan kapasitas di Jawa Timur dan Jawa Barat, BBPOPT kini memfokuskan pendampingan teknis di Provinsi Jawa Tengah guna mendukung keberhasilan implementasi program strategis nasional Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS).
Langkah ini direalisasikan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Strategi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang diselenggarakan pada Rapat Koordinasi dan Pendayagunaan Hasil Perakitan Teknologi di Aula BPKAD Kota Pekalongan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Tengah, Dinas Pertanian Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, dan Kota Pekalongan, serta para Ketua Tim Kerja (Katimker) Penyuluh dan seluruh Koordinator Penyuluh Pertanian dari ketiga wilayah tersebut.

Narasumber BBPOPT, Turyadi, memaparkan fokus materi pengendalian pada jenis-jenis OPT yang rawan merebak pada sistem PM-AAS. Materi yang disampaikan mencakup pemahaman bioekologi dan strategi penanganan tikus, teknik pengendalian Penggerek Batang Padi (PBP), hingga penanggulangan penyakit penting tanaman padi seperti Blas dan Hawar Daun Bakteri (HDB).
Pada sesi diskusi Koordinator Penyuluh Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, mengungkapkan bahwa alumni dan lokasi program Kampung Peramalan yang dilaksanakan di Desa Pantianom pada tahun 2024 hingga kini masih konsisten menerapkan prinsip-prinsip peramalan dan pengendalian yang diajarkan. Salah satu poin kunci yang terus dipraktikkan oleh para petani adalah disiplin penerapan prinsip 6 Tepat (Tepat Jenis, Mutu, Sasaran, Dosis/Konsentrasi, Waktu, dan Cara) saat melakukan aplikasi pestisida di lapangan.

Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 2024 BBPOPT sukses menyelenggarakan Kampung Peramalan di Pekalongan, Kampung Peramalan menerapkan teknologi Pengamatan, Peramalan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan terpadu yang presisi, efektif, efisien, dan ramah lingkungan.
Dalam implementasinya Kampung Peramalan menerapkan Disruptive Agriculture Technology (DAT) yang low input, high productivity (input biaya rendah dengan hasil produksi tinggi). DAT mampu meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja, rasionalisasi sarana produksi, optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lahan. meliputi pemilihan varietas unggul, pola budidaya, penggunaan pupuk, penggunaan pestisida dan upah tenaga kerja.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala BBPOPT, Yuris Tiyanto, menegaskan bahwa sejak pertama kali diluncurkan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, BBPOPT langsung bergerak aktif mengaplikasikan instrumen pengamatan dan peramalan OPT di lapangan. Hal ini menempatkan BBPOPT sebagai salah satu pionir dalam penerapan PM-AAS di Indonesia.
"Penerapan sistem budidaya modern melalui PM-AAS dengan populasi pertanaman yang lebih padat menuntut kesiapsiagaan dan kewaspadaan yang lebih tinggi dari para petugas di lapangan. Pengamatan yang cermat serta peramalan yang presisi merupakan kunci utama agar tindakan pengendalian OPT dapat dieksekusi secara cepat, tepat, dan efektif," tegas Yuris.
“Dalam kerangka kerja ini, BBPOPT terus menempatkan Pengamatan, Peramalan, dan Pengendalian OPT (P3OPT) sebagai elemen kunci pengamanan produksi nasional. Sistem ini bekerja secara berkesinambungan: pengamatan memberikan gambaran riil kondisi pertanaman, peramalan menyusun pijakan untuk langkah antisipasi, dan pengendalian dieksekusi secara presisi berdasarkan dinamika populasi OPT di lapangan”, ungkapnya

Ia melanjutkan, “Ingat kata pepatah, lebih baik mencegah daripada menanggulangi, Pencegahan sejak dini melalui strategi pre-emptif, yang mencakup penggunaan varietas tahan, perlakuan benih (seed treatment), pemupukan yang berimbang, pengolahan tanah yang optimal, penerapan pola tanam serempak, hingga pemanfaatan agens hayati. Jauh lebih efektif dan biayanya murah dari pada kita mengendalikan OPT yang sudah menyerang di lapangan”, imbuhnya
BBPOPT optimistis bahwa pengawalan produksi pangan di Jawa Tengah dapat berjalan optimal. Sinergi yang kuat antara BBPOPT, BRMP, Dinas Pertanian, POPT, PPL, dan petani menjadi fondasi utama dalam mengamankan pertanaman dari ancaman serangan OPT demi mewujudkan swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.